ARTIKEL
Sedekah Bumi Desa Berta: Ruwat Bumi, Rebutan Uang Koin, dan Wayang Kulit sebagai Penjaga Tradisi
Selain dikenal sebagai desa agraris yang adaptif, Desa Berta juga memiliki tradisi budaya kuat yang menjadi penopang identitas sosial—salah satunya Sedekah Bumi (Ruwat Bumi) yang rutin digelar pada bulan Suro. Warga dari lima pedukuhan tumplek blek membawa tenong berisi makanan, hasil bumi, dan sesaji, lalu berdoa bersama sebagai ungkapan syukur atas rezeki yang dilimpahkan alam. Keunikan tradisi ini adalah ritual menanam kepala ayam goreng ke tanah dan rebutan uang koin sebagai simbol rezeki yang harus dikejar dengan usaha dan keberanian. Malam harinya, pentas wayang kulit semalam suntuk digelar, menjadi ruang edukasi moral, kritik sosial, sekaligus hiburan kolektif lintas generasi. Sedekah Bumi tidak sekadar seremoni adat; ia adalah laboratorium sosial tempat nilai gotong royong, solidaritas, dan penghormatan terhadap leluhur diwariskan kepada anak muda. Desa Berta membuktikan, modernisasi bisa berjalan berdampingan dengan pelestarian tradisi.
Artikel saat ini masih dalam tahap pengembangan. Informasi akan terus diperbarui seiring dengan proses pendataan dan verifikasi dari berbagai sumber resmi. Mohon kesabarannya, dan pantau terus untuk mendapatkan informasi terbaru.Artikel saat ini masih dalam tahap pengembangan. Informasi akan terus diperbarui seiring dengan proses pendataan dan verifikasi dari berbagai sumber resmi. Mohon kesabarannya, dan pantau terus untuk mendapatkan informasi terbaru.